Kamis, 13 Oktober 2011

Konflik Sosial di Masyarakat

-->
MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR
KONFLIK SOSIAL DI MASYARAKAT




Disusun Oleh:


Nama                       :   Varina Larasati
NPM                        :  39410345
             Program Studi         : Teknik Industri
             Jurusan                    : Teknik Industri




UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2011


KATA PENGANTAR

Assaalamualaikum. Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang atas berkah dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas Makalah Ilmu Sosial Dasar yang berjudul Konflik Sosial di Masyarakat. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada teman-teman saya 2ID05 yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari  bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saya terus mengharapkan bimbingan dari dosen mata kuliah Ilmu Sosial Dasar. Harapan saya, semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembacanya. Akhirnya kata saya ucapkan terima kasih.

                    Wassalamualaikum Wr.Wb 
Bekasi, 13 Oktober 2011

      Penulis






BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Pengertian Konflik Sosial
Konflik sosial merupakan fenomena umum yang sering terjadi di tengah masyarkat kita, yang didominasi dari berbagai macam suku dan budaya. Dimana masing-masing suku dan budaya mempunyai adat istiadatnya masing-masing. Seringkali terjadi pergesakan antara dua suku atau lebih, yang mengakibatkan pertumpahan darah, perpecahan dan berbagai macam hal negatif lainnya. Konflik yang dalam bahasa Indonesia acap disebut sebagai pertentangan atau perselisihan dapat terjadi pada hubungan yang bersifat individual yang terjadi sebagai akibat perilaku atau perebutan kepentingan masing-masing individu yang bersangkutan.
Kepentingan itu bisa berkenaan dengan harta, kedudukan atau jabatan, kehormatan, dan lain sebagainya. Konflik sosial berarti pertentangan antara kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang diikat atas dasar suku, ras, jenis kelamin, kelompok, status ekonomi, status sosial, bahasa, agama, dan keyakinan politik, dalam suatu interaksi sosial yang bersifat dinamis. Baik dalam masyarakat homogin maupun dalam masyarakat majemuk konflik sosial merupakan hal yang biasa terjadi, bahkan menjadi unsure dinamis yang melahirkan berbagai kreatifitas masyarakat.
Konflik sosial mustahil dihilangkan sama sekali. Yang harus dicegah adalah konflik yang menjurus pada pengrusakan dan penghilangan salah satu pihak atau para pihak yang berkonflik. Oleh karena itu konflik harus dikendalikan, dikelola, dan diselesaikan melalui hukum. Yang berarti melalui jalan damai.

1.2  Penyebab Konflik Sosial
Konflik sosial dapat terjadi karena berbagai prasangka dan sebab. Seperti, prasangka-prasangka ras, suku, agama, keyakinan politik atau ideologi, dan lain sebagainya, dan sebab adanya ketidak-adilan dalam akses pada sumberdaya ekonomi dan politik. Adanya ketidak-adilan akses pada sumberdaya ekonomi dan politik memperparah berbagai prasangka yang sudah ada di antara kelompok-kelompok sosial.
Sejarah Indonesia menunjukkan prasangka yang sudah ada di antara kelompok-kelompok sosial dipertajam dan diperparah oleh kebijakan negara. Misalnya kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengistimewakan golongan Eropa, dan Tionghoa telah mempertajam prasangka rasial antara golongan Melayu ( pribumi ) dengan golongan Tionghoa
1.3  Akibat Konflik Sosial
Konflik sosial sebenarnya memiliki akibat yang buruk bagi masyarakat itu sendiri, diantaranya ketidak rukunan antar warga di sekitar rumah kita apabila terjadi konflik antara sesama warga. Sedangkan dalam konteks yang lebih besar, perpecahan negara kesatuan Republik Indonesia. Konflik sosial yang terjadi di Indonesia selama ini maupun yang berkembang di Ambon bukan karena sentimen agama. Konflik sosial sering terjadi karena ketidakadilan dan kemiskinan secara ekonomi.
Sepanjang Indonesia merdeka, tercatat setidaknya ada 15 konflik besar dalam artian masyarakat yang tewas lebih dari 1.000 orang. Salah satu di antaranya pemberontakan PKI Madiun, DI/TII, G30S, RMS, PRRI/Permesta, Timor-Timur, Poso/Ambon, Papua dan Aceh. Sepuluh di antaranya konflik tersebut karena masalah ketidakadilan ekonomi atau kesenjangan. Selebihnya konflik terjadi karena masalah ideologi dan separatism.
Konflik sosial disebabkan beberapa hal yakni, sentimen agama, suku, dan etnis; perebutan batas wilayah desa, kabupaten/kota, dan/atau provinsi; perebutan sumber daya tanah atau sumber daya alam antar masyarakat; dan distribusi sumber daya yang tidak seimbang antara masyarakat. Terdapat hal lain juga yang menjadi sumber penting konflik sosial yakni kesenjangan sosial, ketidakadilan, dan kemiskinan.





BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Konflik Antar Suku
Indonesia terdiri dari berpuluh-puluh suku yang setiap waktu melakukan mobilitas untuk tetap bertahan hidup dan berpenghidupan. Keragaman ini tidak jarang menimbulkan konflik antar suku di Indonesia. Konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan budaya. Bahkan, kebiasaan antar suku tersebut.
Sesuai dengan semboyan negara kita, bhineka tunggal ika, yang artinya 'berbeda-beda tapi tetap satu jua', seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Banyak dan beragamnya suku di Indonesia layak dijadikan kebanggaan karena merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki bangsa kita. Keragaman yang ada akan lebih indah jika bisa hidup selaras dan berdampingan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dari hari ke hari.

Mencegah Timbulnya Konflik Antarsuku
Sebetulnya, konflik antarsuku di Indonesia tidak perlu terjadi jika kita memiliki sikap-sikap berikut ini.

1. Mengenal
Dengan mengenal pihak yang berbeda suku, terutama yang hidup berdampingan, akan memperkecil bahkan mencegah timbulnya konflik antar suku di Indonesia. Mengenal tidak hanya tahu namanya, tetapi mengetahui suku bangsanya serta adat atau kebiasaan yang bersangkutan. Dengan demikian, ketika suatu saat ada hal-hal yang berbeda dengan adat atau kebiasaan suku kita, dapat kita pahami dan bisa kita terima dengan besar hati.

2. Tidak Ekspresif
Bertindak ekspresif ketika ada sesuatu yang berbeda dengan kita, kadang, menimbulkan terjadinya konflik antarsuku di Indonesia. Sebetulnya, jika kita sudah mengenal, hal ini tdak akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mereka bertindak atau bertingkah laku tidak sama dengan kita, bahkan jauh berbeda, kita tidak kaget lagi.
Dengan begitu, tidak akan ada saling mencemooh atau pihak lain yang tersinggung karena tindakan kita yang ekspresif tersebut, biasanya berujung pada saling serang yang pada akhirnya hanya merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

3. Toleransi
Adanya sikap menghargai perbedaan membuat kedua belah pihak bisa hidup berdampingan walaupun keduanya memiliki adat dan budaya atau kebiasaan berbeda. Semua pihak bisa melakukan adat dan budaya atau kebiasaan masing-masing dengan bebas, tanpa merasa terganggu dan diganggu oleh pihak lain, sehingga budaya yang ada dalam suku tersebut tidak punah.

4. Empati
Dengan memposisikan diri sebagai orang lain, kita akan mengetahui bagaimana rasanya ada di posisi pihak lain sehingga kita tidak akan mengusik ketika pihak lain melakukan ritual atau kebiasaan tertentu sukunya. Begitupun pihak lain, tidak akan mengusik ritual atau kebiasan suku kita.

5. Bangga
Bangga yang harus kita miliki adalah kebanggan sebagai negara kesatuan Indonesia, bukan bangga sebagai individu dari suku tertentu. Merasa bangga karena keragaman suku yang ada di Indonesia. Keragamaan yang merupakan aset negara ini sehingga konflik antar suku di Indonesia tidak akan terjadi.
2.2 Gotong Royong Menjadi Alternatif Mengurangi Konflik
Bangsa kita sesungguhnya adalah bangsa yang mulia, bangsa yang saling menghargai, saling mencintai, memiliki toleransi tinggi, dan memiliki sifat bergotong royong. Gotong royong dan sikap saling menghargai sesama manusia merupakan warisan nilai budaya tinggi. Dilihat dari maknanya, gotong royong adalah nilai kultural yang berasal dari bahasa Jawa, yakni pikul atau angkat, atau sesuatu yang harus dipikul dan diangkat bersama.
Gotong royong merupakan sifat dasar yang dimiliki bangsa Indonesia dan tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Dengan mengedepankan sikap gotong royong, akan muncul sikap tolong-menolong kepada sesama. Tolong-menolong digerakkan oleh asas timbal balik (reciprocity). Artinya, siapa yang pernah menolong, tentu dia akan menerima pertolongan balik dari pihak yang pernah ditolongnya. Di sinilah muncul paham kekeluargaan. Sejak dahulu, dalam kehidupan masyarakat kita, terbina suasana religius, kerukunan, gotong royong, tolong-menolong tanpa pamrih, kekeluargaan, dan solidaritas antarsesama.
Walaupun di sisi lain masih ada sebagian warga yang bersifat individualistis, hal tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa dikalangan masyarakat perkotaan Tradisi bergotong royong kini mulai memudar, kebanggaan pada karya bangsa sendiri semakin pupus, dan semangat memperjuangkan kepentingan bersama semakin susah didapat, Bahkan kejujuran semakin langka, sementara egoisme kelompok semakin mewabah.
Kondisi yang memprihatinkan itu bukan hanya untuk sekedar diratapi dan disesali, karena itu harus berfikir dan berusaha mengubahnya. Untuk itu diperlukan kembali tumbuhnya sikap kepahlawanan dari siapapun untuk mau berusaha keras mengubah situasi dan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara agar bisa menjadi lebih baik dan sesuai dengan cita-cita kemerdekaan.
Keharmonisan budaya dan sikap masyarakat di masa dahulu berbeda dengan kehidupan modern saat ini, ketika budaya, sikap, dan tradisi tersebut terkikis, bahkan hilang dalam kehidupan kita. Dari teori sosiologi, perubahan di Indonesia tidak merata, ada yang cepat ada juga yang lambat. sebagai perbandingannya adalah daerah Jawa dan Papua. seperti yang kita ketahui pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan sehingga masyarakatnya sudah mengalami perubahan menuju manusia modern yang segala aktifitasnya ditunjang oleh berbagai teknologi canggih. Sedangkan diPapua merupakan daerah yang penduduknya kebanyakan masih memegang teguh tradisinya dan jarang dijumpai peralatan teknologi disana, terutama didaerah pedalaman.
Terkadang kita menemukan bahwa pijakan kebenaran bukan lagi diukur dari budaya kita tapi barometernya ialah budaya barat. Sekarang mari kita mencoba berlayar di tepian budaya kita, agar tahu bahwa budaya ketimuran luar biasa mengagumkan, misalnya kegiatan Gotong royong, betapa indahnya ketika mereka berjejal-jejal menghampiri suatu tempat untuk melakukan kegiatan, mereka berkomunikasi dengan sangat akrabnya, saling bertukar fikiran, setelah itu mereka bersama-sama makan dengan lahapnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konflik atau perselisihan maupn gesekan antara komunitas, suku, dsb sebenarnya dapat dihindari jika kita semua sebagai warga negara yang baik mau ikut menjaga ketertiban dan keamanan negara kita dan menghindari yang namanya perpecahan, perang saudara.
Akibat dari konflik yang terjadi di masyarakat sebenarnya tidak mempunyai sisi positif yang dapat diambil, yang ada hanya sisi negatif yang semakin membuat kita semakin jauh terhadap saudara sebangsa dan setanah air.
3.2 Saran
Jika seluruh elemen masyarakat yang dimulai dari elemen paling tinggi seperti presiden, dan para ajudan-ajudannya serta dari elemen yang paling bawah sekalipun seperti rakyat jelata, ikut mendukung dan menjaga ketertiban negara ini, maka bukan hal yang sulit untuk menjadikan negara Indonesia kita ini aman, tentram, dan nyaman untuk dijadikan surge bagi kita untuk berlindung.

0 comments:

Poskan Komentar