Jumat, 05 Oktober 2012

MAKALAH AGAMA ISLAM - TAKDIR


MAKALAH AGAMA ISLAM
TAKDIR




Disusun Oleh:


Nama                       :   Varina Larasati
NPM                        :  39410345
Kelas                        :  2-ID05
             Program Studi         :  Teknik Industri
             Jurusan                    :  Teknik Industri



UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2011

 
KATA PENGANTAR

Assaalamualaikum. Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang atas berkah dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah Agama Islam yang berjudul Takdir. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada teman-teman saya 2ID05 yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari  bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saya terus mengharapkan bimbingan dari dosen mata kuliah Agama Islam. Harapan saya, semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembacanya. Akhirnya kata saya ucapkan terima kasih.

                    Wassalamualaikum Wr.Wb 
Bekasi, 5 November 2011

      Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Pengertian Takdir
Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Iman kepada Takdir adalah rukun iman yang keenam. Oleh karena itu orang yang mengingkarinya termasuk ke dalam golongan orang kafir. Dalil yang menunjukkan wajibnya iman kepada takdir terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah, yaitu:
“ Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid:22)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Al-Qamar: 49).
Adapun dari hadits adalah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad tentang iman, maka Nabi Muhammad bersabda, “Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruk." (Bukhari Muslim).
Takdir merupakan hal penting yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Karena sesesungguhnya takdir kita telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan oleh Allah. Jadi mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
Dan jikalau imannya rendah maka dia akan menyesali setiap musibah yang ditimpakan kepadanya. Perlu diingat bahwa, setiap hal yang telah ditentukan pasti terjadi. Dan takdir itu ada yang bisa dirubah dengan berusaha, yaitu dengan do'a dan usaha. Jikalau kita berhasil maka sesungguhnya Allahlah yang memindahkan kita dari takdir yang jelek ke takdir yang baik.



1.2  Takdir Dalam Agama Islam
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Macam-Macam Takdir
Takdir itu sendiri terbagi atas beberapa kelompok yaitu:
1.      Takdir Azali (Takdir Umum)
Yaitu meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai Hari Kiamat.  Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid :22)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” 1)

“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (Pena), lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah!' Ia menjawab :'Wahai Robb-ku apa yang harus aku tulis?' Allah berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.'” 2)

1. HR. Muslim (no.2633(16)) dan at-Tirmidzi (no.2165), Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no.557), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash rodhiyalloohu'anhuma. Lafadz ini milik Muslim
2. HR. Abu Dawud (no.4700), Shahiih Abu Dawud (no.3933), at-Tirmidzi (no.2155, 3119), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no.102), al-Ajurry dalam asy-Syari'ah (no.180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thoyalisi (no.577), dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit rodhiyalloohu'anhu, hadist ini shahih.

2.      Takdir ‘Umuri
Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan sperma (blatokist) sampai pada masa sesudah itu, dan bersifat umum; mencakup rizki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam :

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan diperut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqoh (morula/segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian menjadi mudhghoh (embrio/segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Alloh mengutus seorang malaikat diperintah (menulis) empat perkara : rizkinya, ajalnya, sengsara atau bahagia
Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kamu atau seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka melainkan satu depa atau satu hasta, ternyata catatan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalnya ahli syurga maka ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli syurga sampai tidak ada jarak antara dia dengan syurga melainkan satu hasta atau dua hasta, ternyata tulisan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalnya ahli neraka, maka ia pun memasukinya.”
Takdir ini lebih khusus dari yang ada di Lauhul Mahfudz.

3.      Takdir Sanawi (Tahunan)
Yaitu yang dicatat pada malam Lailatul Qodar setiap tahun, seperti firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kamu adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan :4-5)

Pada malam itu ditulislah semua apa yang bakal terjadi dalam satu tahun : mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal dan lain-lain, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya itu telah dicatat sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz, juga apa yang ditetapkan dalam takdir ‘umuri yang berkaitan khusus dengan individu. Dan Allah Maha Menjaga segala sesuatu.

4.      Takdir Yaumi (Harian)
Yaitu dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rohman : 29)

Maksudnya, apa yang menjadi urusan-Nya menyangkut makhluk-Nya. Takdir ini dan kedua takdir sebelumnya (‘umuri dan sanawi) merupakan penjabaran dari taqdir azali.

2.2  Dimensi Ketuhanan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
1.  Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (QS. Al Hadid [57]:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
2.  Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya). (QS. Al-Furqaan25]:2)
3.  Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj[22]:70)
4.  Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (QS. Al Maa'idah[5]:17)
5.  Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya. (QS. Al-An'am[6]:149)
6.  Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. (QS. As-Safat[37]:96)
7.  Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman[31]:22). Allah yang menentukan segala akibat.
2.3  Dimensi Kemanusiaan
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
1.      Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar Ra'd[13]:11)
2.      (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk[67]:2)
3.      Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (QS. Al-Baqarah[2]:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
4.      ... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (QS. Al Kahfi[18]:29)




BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Takdir termasuk kedalam rukun iman. Jadi, takdir harus diyakini oleh setiap muslim karena tidak ada satu hal pun yang terlepas dari ketentuan Allah. Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.
Karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.
3.2 Saran
Penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, masukan dan kritik yang membangun penulis harapkan dapat diberikan dari para pembaca sekalian.

0 comments:

Poskan Komentar